Menafsirkan Isi Pidato Anies Baswedan

Isi Pidato Anies Baswedan Inilah si kutipan Pidato tersebut, Menafsirkan isi pidato pertama gubernur jakarta terpilih yang baru dilantik

Menafsirkan Isi Pidato Anies Baswedan

SEBARCOPAS.COM -- Menafsirkan isi pidato pertama gubernur jakarta terpilih yang baru dilantik kemarin, senin 16/10/17, penafsiran ini sekedar opini dari saya dan bukan sebuah rujukan yang sah namun apabilah ada kesamaan dan kesepemahaman dengan anda kemungkinan itu bisa terjadi dan untuk yang tidak merasa sependapat jangan pernah coba atau ikut-ikutan menjerumuskan diri mu kedalam opini ini karna tujuan dalam artikel ini bukan untuk menggiring pemikir anda yang belum memahami isi pikiran saya dan kawan-kawan sepehaman yang lain.

Sebelum nya puji dan syukur atas rahmat ALLAH tuhan yang maha esa dalam karunia Rahman dan Rahim nya atas terpilih nya Gubernur baru yang Insyallah bisa membawa jakarta dan masyarakat nya menjadi warga yang beriman dan bersyukur atas nikmat tuhan yang maha esa.

Beriman sudah pasti Bertaqwah, Bertaqwah sudah pasti Berahlak, Berahlak sudah pasti Berakal dan Berakal sudah pasti Berkarya. Itulah Insan-insan bangsa yang akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang Beradab, Bermoral dan Besar.

Sejak berdiri nya kota Jakarta, kota ini sudah beberapa kali berganti-ganti gubernur dan ini lah daftar gubernur DKI Jakarta dari yang awal hingga yang sekarang ini.

Senin 16/10/2017 Pelantikan (Anies Baswedan dan Sandiaga Uno) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta di Istana Presiden, Yang dihadiri sejumlah tokoh.

Lanjut dihadapan rakyat dan masyarakat Jakarta di Balai Kota, dan ini lah isi kutipan pidato tersebut yang akan saya kedepan kan, karna teks ini sangat memberikan ruh serta semangat kebangsaan dan kenasionalisan akan sebuah harapan, impian dan cita-cita.

Inilah si kutipan Pidato tersebut :
Kini Saatnya Pribumi Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Di hadapan warga Jakarta, Anies berbicara soal kolonialisme yang ada di depan mata.
"Saudara-saudara hadirin warga Jakarta. Sejak era Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga kini Jakarta adalah kisah peradaban manusia. Masyarakat Betawi telah menjadi sebaik-baiknya tuan rumah. Di tanah ini semua cita-cita bangsa diungkapkan, karena itu kita tidak boleh di tanah ini justru janji kemerdekaan tak terlunaskan oleh warganya," ujar Anies dalam pidato pertama yang digelar di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (16/10/2017).

  • [accordion]
    • Transkip Lengkap Pidato Anies Baswedan - JAKARTA, 16 OKTOBER 2017
      • Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi rabbil alamin.

        Washolatu wassalamu 'ala asrofil ambiya iwal mursalin wa'ala alihi wasohbihi aj ma'in.

        Amma ba'du.

        Saudara-saudara semua warga Jakarta.

        Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

        Salam sejahtera. Om swastiastu. Namo buddhaya.

        Saudara-saudara semua, hari ini satu lembar baru kembali terbuka dalam perjalanan panjang Jakarta. Ketika niat yang lurus, ikhtiar gotong-royong dalam makna yang sesungguhnya, didukung dengan doa-doa yang kita terus bersama panjatkan, maka pertolongan dan ketetapan Allah SWT itu telah datang. Tidak ada yang bisa menghalangi apa yang telah ditetapkan oleh-Nya, dan tidak ada pula yang bisa mewujudkan apa yang ditolak oleh-Nya. Warga Jakarta telah bersuara dan terpaut dengan satu rasa yang sama: Keadilan bagi semua. Mari kita terus panjatkan syukur dan doa keselamatan kepada Allah SWT, Yang Maha Menolong dan Maha Melindungi.

        Hari ini sebuah amanat besar telah diletakkan di pundak kami berdua. Sebuah amanat yang harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Hari ini adalah penanda awal perjuangan dalam menghadirkan kebaikan dan keadilan yang diharapkan seluruh Rakyat Jakarta, yaitu kemajuan ibukota tercinta dan kebahagiaan seluruh warganya.

        Hari ini, saya dan bang Sandi dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur bukan bagi para pemilih kami saja, tapi bagi seluruh warga Jakarta. Kini saatnya bergandengan sebagai sesama saudara dalam satu rumah untuk memajukan kota Jakarta. “Holong manjalak holong, holong manjalak domu,” demikian sebuah pepatah Batak mengungkapkan. Kasih sayang akan mencari kasih sayang, kasih sayang akan menciptakan persatuan. Ikatan yang sempat tercerai, mari kita ikat kembali. Energi yang sempat terbelah, mari kita satukan kembali. Jakarta adalah tempat yang dipenuhi oleh sejarah. Setiap titik Jakarta menyimpan lapisan kisah sejarah yang dilalui selama ribuan tahun. Jakarta tidak dibangun barubaru saja dari lahan hampa. Sejak era Sunda Kalapa, Jayakarta, Batavia hingga kini, Jakarta adalah kisah pergerakan peradaban manusia. Jakarta sebagai melting pot telah menjadi tradisi sejak lama. Di sini tempat berkumpulnya manusia dari penjuru Nusantara, dan penjuru dunia. Jakarta tumbuh dan hidup dari interaksi antar manusia.

        Dalam sejarah panjang Jakarta, banyak kemajuan diraih dan pemimpin pun datang silih berganti. Masing-masing meletakkan legasinya, membuat kebaikan dan perubahan demi kota dan warganya. Untuk itu kami sampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para Gubernur dan Wakil Gubernur sebelumnya, yang turut membentuk dan mewarnai wujud kota hingga saat ini. Jakarta juga memiliki makna pentingnya dalam kehidupan berbangsa. Di kota ini, tekad satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa persatuan ditegakkan oleh para pemuda. Di kota ini pula bendera pusaka dikibartinggikan, tekad menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat diproklamirkan ke seluruh dunia. Jakarta adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya. Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri.

        Jangan sampai terjadi di Jakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah Madura, “Itik se atellor, ajam se ngeremme.” Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain. Kini kami datang untuk melanjutkan segala dasar kebaikan yang telah diletakkan para pemimpin sebelumnya, sembari memperjuangkan keberpihakan yang tegas kepada mereka yang selama ini terlewat dalam merasakan keadilan sosial, membantu mengangkat mereka yang terhambat dalam perjuangan mengangkat diri sendiri, serta membela mereka yang terugikan dan tak mampu membela diri. Jakarta adalah ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka selayaknya ia menjadi cermin dan etalasi dari semangat NKRI, semangat Pancasila dan semangat tegaknya konstitusi. Di kota ini lah Pancasila harus mengejawantah, setiap silanya harus mewujud menjadi kenyataan.

        Dimulai dari hadirnya suasana ketuhanan dalam setiap sendi kehidupan kota. Indonesia bukanlah negara yang berdasar satu agama, namun Indonesia juga bukan negara sekuler. Ketuhanan, selayaknya menjadi landasan kehidupan warga. Prinsip ketuhanan ini kemudian harus diwujudkan pula dengan hadirnya rasa kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh rakyat, tanpa ada yang terpinggirkan, terugikan, apalagi tidak dimanusiakan dalam kehidupannya. Perjuangan selanjutnya adalah memperjuangkan persatuan dalam kehidupan kota, tak hanya merayakan keragaman. Ada sebuah pepatah Aceh yang bermakna, “Cilaka rumah tanpa atap, cilaka kampung tanpa guyub.” Persatuan dan keguyuban ini yang harus terus kita perjuangkan, dimulai dari meruntuhkan sekat-sekat interaksi antar segmen masyarakatnya, terutama pemisahan ruang interaksi berdasar kemampuan ekonomi.

        Dalam mewujudkan semua prinsip itu, dialog dan musyawarah harus diutamakan melalui mekanisme majelis-majelis perwakilan warga yang dilibatkan dalam setiap pengambilan kebijakan. Musyawarah diutamakan untuk menghasilkan kesepakatan dan kesepahaman. “Tuah sakato,” kata orang Minang. Dalam kesepakatan berdasar musyawarah itu terkandung tuah kebermanfaatan.

        Dan di ujungnya, namun menjadi yang terpenting, kita perjuangkan hadirnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Jakarta. Karena hadirnya keadilan sosial ini akan menjadi parameter utama terwujudnya semangat Pancasila di kota ini.

        Seluruh aspek dan alat pembangunan kota haruslah ditujukan untuk menghadirkan keadilan sosial bagi warga. Termasuk APBD, jelas harus mencerminkan keberpihakan kepada mereka yang belum merasakan keadilan sosial. Bung Karno dahulu berucap, “Kita hendak membangun satu negara untuk semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan maupun golongan yang kaya, tapi semua untuk semua.” Maka segala pengambilan kebijakan di kota ini haruslah didasarkan pada kepentingan publik luas. Pengelolaan tanah, air, teluk dan pulau, tidaklah boleh diletakkan atas dasar kepentingan suatu individu, kepentingan suatu golongan, kepentingan suatu perhimpunan, ataupun kepentingan suatu korporasi. Semua untuk semua, Jakarta untuk semua, inilah semangat pembangunan yang akan kita letakkan untuk Jakarta. Jakarta adalah saksi bagaimana sebuah bangsa menempuh jalan terjal mendaki untuk wujudkan mimpi merdekanya. Tanggung jawab kita kini adalah menjadikan Ibukota menjadi kota milik semua. Setiap keluarga dan pribadi kita harus bisa mengatakan dengan penuh rasa syukur, beruntung kita tinggal di Ibukota. Ibukota harus menjadi kota yang manusiawi, kota yang memberikan ruang pada seni, kebudayaan dan tradisi untuk berkembang, sekaligus kota yang kehidupannya membahagiakan. Di ibukota semua harus berkesempatan untuk maju bersama. Jakarta harus Maju Bersama.

        Gubernur dan Wakil Gubernur tentu menjadi pemimpin bagi semua dan harus menghadirkan keadilan bagi semua. Namun jelas pula bahwa kami hadir dengan tekad mengutamakan pembelaan yang nyata kepada mereka yang selama ini tak mampu membela diri sendiri, membantu mengangkat mereka yang selama ini terhambat dalam perjuangan mengangkat diri sendiri. Bang Sandi tadi sudah menegaskan komitmen dan paradigma ke depan tentang pembangunan kota. Bang Sandi sudah jabarkan bagaimana kita akan bersama-sama membangun dan mengelola kampung, jalan, sekolah, puskesmas, pasar, angkot, dan berbagai aspek kota lainnya. Seperti kata Bang Sandi, ini adalah satu langkah bersama ke depan, memastikan Jakarta yang lebih ramah mimpi.

        Untuk itu, kami hadir mengajak seluruh warga, menjadikan usaha memajukan kota sebagai sebuah gotong royong, sebuah gerakan bersama. Dalam pembangunan kota ke depan, Gubernur bukan sekadar administrator bagi penduduk kota, bukan pula sekadar penyedia jasa bagi warga sebagai konsumennya. Namun kami bertekad akan menjadi pemimpin bagi kolaborasi warga kota yang berdaya dan turut menjadi perancang dan pelaku pembangunan.

        Dalam pepatah Banjar dikatakan, “Salapik sakaguringan, sabantal sakalang gulu.” Satu tikar tempat tidur, satu bantal penyangga leher. Kiasan ini bermakna hubungan antar elemen masyarakat yang erat, saling setia dan mendukung satu sama lain. Inilah semangat yang hendak kita bangun. Selain itu, kami mengajak pula seluruh elemen kepemimpinan di kota Jakarta ini, mulai dari jajaran pemerintah daerah, para wakil rakyat, pemimpin lembaga pertahanan, keamanan dan penegakan hukum, untuk memiliki tekad yang sama: menghibahkan hidupnya kepada rakyat Jakarta, bukan sebaliknya, menyedot kekayaan dari kota dan warganya, untuk dibawa pulang ke rumahnya.

        Sebuah kearifan lokal dari Minahasa mengingatkan, “Si tou timou tumou tou.” Manusia hidup untuk menghidupi orang lain, menjadi pembawa berkah bagi sesama. Sebuah pengingat bagi semua manusia, namun terutamanya bagi para pemimpin. Mohammad Husni Thamrin, seorang putra terbaik Jakarta pernah mengatakan: “Setiap pemerintah harus mendekati kemauan rakyat. Inilah sepatutnya dan harus menjadi dasar untuk memerintah. Pemerintah yang tidak mempedulikan atau menghargakan kemauan rakyat sudah tentu tidak bisa mengambil aturan yang sesuai dengan perasaan rakyat.” Ucapan Husni Thamrin ini terpatri dalam patungnya yang berdiri di Lapangan Monas di hadapan kita ini.

        Saudara-saudara semua, perjuangan kita ke depan adalah perjuangan untuk mewujudkan gagasan, kata dan karya yang selama ini telah kita tekadkan. Dengan tak henti memohon pertolongan kepada Yang Maha Memberi Pertolongan, mari kita bersama berikhtiar mewujudkan Jakarta yang maju setiap jengkalnya, dan bahagia setiap insan di dalamnya.

        Tanah Air Indonesia adalah karunia Allah. Ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bangsa ini diberikan keindahan dan kekayaan Alam yang tiada tandingnya. Ya, alam Indonesia adalah ciptaan Tuhan, tapi desa, kota dan negara di tanah ini adalah ciptaan manusia. Tuhan menciptakan alam, manusia membentuk kota. Bagaimana kota kita sepenuhnya kembali pada diri kita semua.

        Semoga Allah SWT membantu ikhtiar kita, melindungi ibukota, menjadikannya wilayah yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, serta menurunkan keberkahan bagi setiap warganya. Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Tiada usaha, kekuatan, dan daya upaya selain dengan kehendak Allah.

        Wallahu muwafiq ila aqwamith thoriq, billahi taufiq wal hidayah.

Saya sendiri menafsirkan dengan kemenangan anies-sandi bisa dibilang ini adalah kekalahan telak bagi para corporation-corporation hantu dan kemenangan bagi masyarakt bawah dan warga pribumi yang sempat tersingkirkan, kemanangan semua golongan suku dan seluruh umat beragama.

Untuk pepatah dan pantun dalam pidato yang menggunakan banyak bahasa daerah bisa ditafsirkan bahwa kemangan tersebut bukan hanya senantiasa ditunggu-tunggu oleh masyarakat jakarta tapi ini adalah kemenangan yang diperjuangan oleh seluruh rakyat indonesia dari sabang sampai merauke.

Tak lupa butir-butir lengkap poin PANCASILA dalam pidato tersebut sangat mengembalikan identitas bangsa, yang mana bangsa kita adalah bangsa yang berketuhanan dan bukan bangsa yang anti ketuhanan, bukan bangsa yang dimiliki 1 agama, bukan juga bangsa yang anti beragama.
-Dahsyat-

COMMENTS

BLOGGER
Nama

Adsense,4,Blog,1,Cryptocurency,3,FOTO,2,Intelijen,7,KHAZANAH,13,KONSPIRASI,10,NASIONAL,4,NEWS,5,OPINI,6,VIDEO,2,
ltr
item
SebarCopas: Menafsirkan Isi Pidato Anies Baswedan
Menafsirkan Isi Pidato Anies Baswedan
Isi Pidato Anies Baswedan Inilah si kutipan Pidato tersebut, Menafsirkan isi pidato pertama gubernur jakarta terpilih yang baru dilantik
https://4.bp.blogspot.com/-o96HMDpT45I/WeU1r73XbSI/AAAAAAAADGQ/rrogxP619dEdkMcy8dXH6Ap1KWiQjNK2gCLcBGAs/s1600/ANIES%2BSANDI%2BGubernur%2BBaru.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-o96HMDpT45I/WeU1r73XbSI/AAAAAAAADGQ/rrogxP619dEdkMcy8dXH6Ap1KWiQjNK2gCLcBGAs/s72-c/ANIES%2BSANDI%2BGubernur%2BBaru.jpg
SebarCopas
https://www.sebarcopas.com/2017/10/menafsirkan-isi-pidato-anies-baswedan.html
https://www.sebarcopas.com/
https://www.sebarcopas.com/
https://www.sebarcopas.com/2017/10/menafsirkan-isi-pidato-anies-baswedan.html
true
6127867169675810666
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy